Saturday, March 30, 2013

Long Life X-man

Sore ini tiba-tiba keinget kejadian lama. Pasti ada yg pernah ngalamin kejadian ditinggal mantan nikah kan? Saya juga. Dan ini kejadian yg maksa saya buat tampak ikut senang. Hahahaa tapi bukan berarti sore ini saya ingin menye-menyean. Enggak kok, hanya sedikit flashback.

Mungkin emang kami nggak diciptain utk jadi sepasang adam dan hawa, mungkin Tuhan maunya kami jd saudara. Soalnya beberapa kali kejadian setelah putus sama dia dan ada keinginan utk balikan selalu saja salah satu di antara kami punya pacar. Sampe akhirnya dia menikah dan saya putus sama pacar saya waktu itu.


Tanpa beribet ceritanya, jadi hari itu mas mantan ngeBBM kalo mau main ke kota saya, kira-kira satu jam lah perjalanannya. Memang sih sebelum-sebelumnya kami sering ketemu sekedar makan siang. Hari itu tanpa direncana akhirnya kami berdua nonton salah satu film Rihanna. Saya agak lupa kami mampir utk makan ato tidak waktu itu, tapii yg saya ingat, selama di mobil dia, saya nemuin undangan yang ada nama saya. Agak-agak kaget dan sempet bingung mau ngomong apa, meskipun saya tau dia memang akan menikah dengan pacarnya. Dan kalimat yg akhirnya keluar adalah "Ciyeeeee nikah nih, undangan buat aku ini?"


Dia sempat ketawa kecil dan sedikit salah tingkah. Saya cuma nahan sedih dengan senyam-senyum kayak bocah. Dia bilang dia sebenernya mau ngasih undangan itu nanti waktu udah mau pulang.           


Sampai akhirnya di depan rumah, saya tau itu terakhir kalinya saya sedekat itu dengan dia. Itu baru berasa betul sedihnya. Saya tidak bisa menggenggam tangannya lagi seperti waktu itu. Dan hal terakhir sebelum kami benar-benar terpisah, sebelum pintu mobilnya saya buka, dia bilang "Aku nggak dipeluk?" Hahahaa dalam hati saya berkecamuk "Hey, kamu jahat banget, ini hari terakhir ketemu sebelum akhirnya kamu bener-bener nikah dan aku harus memeluk calon pengantin pria?" dan seketika itu aku masa bodoh dengan apapun. Aku memeluk dia eraaaat sekali, aku menahan sakit dan tangis malah tersenyum seakan-akan bahagia. Mengucapkan selamat dan harapan-harapan utk kehidupannya dengan sang calon istri. Saya melepasnya. Melepas pelukan dan melepas kehidupan.         


Selamat tinggal, pastikan kamu bahagia selalu.

Monday, March 11, 2013

Richard Noel Mendez

Hari pernikahanku
Hari ini aku menikah. Luar biasa bahagia. Mimpiku mendampingi pria yang mencintaiku dengan tulus ini, terwujud. Gaun sutra bernuansa gold dan red velvet ini berdampingan dengan jas yang berwarna sama di altar pernikahan. Senyum kami tak henti-hentinya mengembang. Tak jarang juga mata kami saling memandang seolah menyampaikan isi hati kami, aku mencintaimu.
Suamiku. Ya, setelah janji sehidup semati kami ucapkan, sepenuhnya hakku untuk memanggilnya begitu. Dia adalah sosok pria yang mampu mengalihkan segala pandangan mata dan cintaku. Hati ini sudah sepenuhnya miliknya. Dia lebih sering terlihat diam dari ucapannya, tapi tidak dengan pandangan matanya. Dia adalah abdi negara yang membagi hati dan jiwanya untuk negara dan aku. Bukan hal baru ketika aku harus mengalah demi tugasnya. Aku tetap mencintainya.

Satu tahun setelah hari pernikahan kami

Seperti hari-hari kami selama ini, saat matahari menjelang, muncul dengan ditemani embun, aku menyeduh kopi hangat kesukaan suamiku. Disambut dengan pelukan dan kecupannya padaku. Dan bisikan manja yang berhasil meronakan pipiku pagi itu.
"Hey, I know that you love me dear. I do the same. I love you more more more and more." ucapku dalam peluknya. Direbahkanlah aku disampingnya, dipeluk hangat olehnya. Hidupku begitu indah.
"Well honey, how if we going to movie tonight? I really wanna watch a movie with you. Only you and I." aku memohon padanya.
"Sounds good. I think today won't be so busy like yesterday. Tonight, right? 8pm, deal?"
"Deal! Yippiiiiiieeee, I'm going to date tonight! Feel like teenager again. Thank you my prince." aku mengecupnya dan kulihat senyumnya. Sungguh aku tau Tuhan menyayangi kami. Kami sangat bahagia.
"Now, you need to take a bath, or you gonna be late, honey." dan dengan sigap dia berjalan cepat ke kamar mandi, memutar panel shower dan menyiulkan lagu I Will dari The Beatles. Aku masih merebahkan diri, mendengar siulan dan suara air dari shower. Membayangkan kencan kami malam nanti, baju apa yang akan aku kenakan, sepatu dan tas apa yang akan aku pakai. Ah, cepatlah datang, malam.


5pm

"Hey Prince, I love you. We have a date tonight. :)" aku mengirimkan sebuah pesan padanya.
Sembari menunggu waktu jalan kami tiba, aku berbenah diri. Menyetrika pakaian yang akan aku kenakan, menyiapkan clutch bag dan clog heels. Aku merasa muda lagi. Aku merasakan detak jantungku. Deg deg deg deg.


7pm

Suamiku belum juga pulang. Aku menelfon temanku yang kebetulan adalah teman seprofesi suamiku. Dan betul memang kegiatan belum selesai.
Aku sudah berdandan rapi. Menunggu di sofa coklat muda ruang tamu kami. Sambil mendengarkan lantunan lagu dari playlist, aku menunggu suamiku.........hingga tertidur.


11pm

Terdengar suara berisik semacam plastik dan derit pintu. Kubuka mata dan kutegakkan badanku. Memfokuskan pandangan pada seseorang yang bersimpuh dihadapanku, memelukku dan berulang kali mengucap maaf.
Aku tersenyum dan membalas pelukannya "Honey, I dont need any flowers or new dresses or any jewelry or a new car or diamonds. I need your time, only two hours for me. Two hours." kulepas pelukannya, kutersenyum padanya dan berjalan menuju kamar, menanggalkan pakaianku, menghapus make up-ku di meja rias, mencuci mukaku dan kemudian berjalan ke tempat tidur, menarik selimut dan kupejamkan mata. Aku sudah tak bisa menangis karna hal ini. Aku tau suamiku berdiri di pintu melihatku sedari tadi seakan-akan menunjukkan penyesalannya. Aku kecewa, tapi inilah resikonya. Dia abdi negara dan aku pendamping hidupnya.


Tujuh tahun setelah hari itu

"Ibu, aku tidak bisa menghitung dengan baik langkahku dari rumah tadi. Aku terlalu bersemangat berjalan dengan sepatu baruku ini. Maafkan aku." seorang putri cantik berjalan berjinjit di sampingku dengan sepatu hitamnya, menggandengku.
"Memangnya Ibu mewajibkanmu menghitung? Kau hanya perlu menghitungnya untuk mengingat bahwa setiap kau menuju kemari nanti, hitunganmu akan berbeda karna kamu tumbuh, sayang."
Kami pun berhenti di antara sudut taman hijau yang terawat. Di hadapan nisan marmer berwarna putih tulang keemasan terpahat nama dan salam cintaku berwarna red velvet.
"Richard Noel Mendez. I love you in the name of earth and paradise. Our love is everlasting. Your soul and princess. Mendez."
Seperti itulah tulisan yang terpahat. Kekasihku, pergi menunggu kami di surga. Suamiku, sang abdi negara yang gugur dengan meninggalkan kharisma tak terlupakan. Ayah dari putri kami, hanya sempat mengenal 3 tahun tapi sebagian dari jiwa dan raga putriku adalah dirinya.


Jika segala pintaku dikabulkan Tuhan, aku akan memohon kembali pada saat dia hanya sempat di rumah untuk tidur, menyantap masakanku dan menggantikan popok putri kami. Sungguh tak apa bila memang kami tak bisa pergi liburan bahkan hanya membelikan baju putri kami barang hanya dua jam. Aku tetap mencintainya.
Bahkan ketika aku melihat nisannya, aku masih merasakan bagaimana cintanya padaku. Bagaimana setianya aku menunggu.
Tapi Tuhan hanya ingin kami hidup bersama sebagai suami istri untuk 8 tahun. Itu cukup. Surga menantiku, dan kuyakin suamiku menunggu.

Sampai jumpa Richard Noel Mendez. Aku akan sangat merindukan dekapanmu, suara beratmu, siulan pagimu, rayuan manjamu dan segalanya tentang kamu. Aku berjanji hati ini tetap milikmu dan akan kubesarkan putri kita sesuai impian kita.

I love you my Prince. Wait for me.
Your soul.

Sunday, February 10, 2013

Namanya Kita

Kamu menemukanku dengan sebuah nama
Di ruang waktu yang tak disangka
Dengan senyuman yang kutawarkan
Dan suaramu tanpa cela
Aku menemukanmu dari tangkapan mata
Di takdir yang entah digariskan Tuhan
Dengan sedikit pujianmu
Dan tatapanku yang kau mau
Detak jantung pun menghasilkan senyawa
Satu senyawa yang menjadi rahasia
Bahkan Tuhan pun ikut menjaga
Namanya cinta, penciptanya adalah kita
Hari menjadi waktu yang tak lagi kita hitung
Bulan tak jadi lagi hal yang terdengar berat
Tahun mungkin nanti kita jajaki
Abad adalah impian kita menjaga cinta
Berabad-abad hingga selamanya
Selama itulah kita melihat hal yang sama
Dan selama itu pula kita bermain peran.

Monday, January 14, 2013

Celah Cerita Hidupmu

Awalnya menjadi hal yang lucu, ketika aku lupa di mana meletakkan sesuatu.
Hingga akhirnya menjadi bencana, ketika sekedar mengingat namamu saja aku tidak mampu.


Yang awalnya hanya lelucon, lambat laun menjadi hal yang sangat sensitif. Bukan maksudku meninggalkanmu begitu saja. Tapi sungguh kadang aku lupa keberadaanmu. Dan begitu sakitnya aku ketika mengingat aku memilikimu.


Dari rintihan hujan yang mewakili tangisku, aku menyampaikan salam cintaku. Dan dari sinar mentari pagi yang hangat, aku menyampaikan pelukanku. Meski dari jarak ujung dunia ke titik pelosok sekalipun.


Nanti akan ada saatnya kamu berterima kasih padaku karna telah kuanjurkan untuk tinggalkan aku. Akan ada hawa yang mampu menemani kehidupanmu. Dan akan selalu ada aku di celah cerita hidupmu.


Aku yang melupakanmu, mencintaimu sepenuh hati.

Friday, January 11, 2013

Cinta Itu Lara

Sepenggal cerita, sejengkal masa
Memainkan alunannya, mengikuti melodinya
Melangkah, memanipulasi jejak

Semu tapi nyata, remuk tapi bahagia
Menahan ego, menyimpan benci
Memunculkan kisah di tengah permukaan

Selangkah dan berlanjut
Menepi, bukan berarti berhenti
Berlari tapi tidak pergi

Menautkan hati tapi tidak memiliki
Seperti inikah yang kita sebut cinta?
Indah hanya ketika melupakan sementara

Cinta
Cinta itu lara
Tidak terkendali, liar dan tajam

Namun tetaplah ada.
:)

Tuesday, December 11, 2012

Its Too Hot to Hang Out

Hollaaaa~ I'm back back back.
:)

Its been looooooooong time, dan akhirnya ngebuka blog lagi. Angan-angannya sih ngeblognya bisa oke terus, photonya juga kaga kadang ada kadang enggak. Sayangnya sih, I lost my partner, partner for everycrime I wanna do. *Come back to me, soon, Key!*


Well, sebenernya banyak hal sih yang mau dishare. Tapi, keterbatasan mood buat ngetik, lagi-lagi jadi penghalangnya. Siang tadi lagi panas-panasnya Solo. Maunya ya mager, duduk manis as The Queen like he always treats, baca novel, nyruput greentea latte, disuapin cake apapun. Kapan duit buat kawin ngumpul kalo kaga ada yang kerja? Hahaa :DD


Hmmmmmmm, kali ini mau sharenya tentang 'Hubungan Serius' ah, biar keliatan mature. Hubungan serius yg dimaksud pastinya ya yang mengarah ke bahtera pernikahan ya, bukan sekedar pelaminannya aja. Yang sekarang lagi ngalamin hubungan serius pasti udah ongkang-ongkang lega nunggu hari kawin dateng aja. Tinggal mikir mau gimana setelah kawin. Nah yang belum? Ngiler aja udah syukur deh.


Di antara kalian ada yang ngidam nikah muda? Ah pasti banyak. Saya juga kok. Bagi saya nikah muda itu bukan sekedar kegatelan nikah ato dikawinin laki ya! Nikah itu sakral, komitmen sampai mati. Dan nggak semua orang cukup mampu buat memutuskan untuk menikah muda. Nyatanya, banyak kan tuh yg udah umur hampir bahkan sudah kepala 4 belum juga nikah. Nggak usah jauh-jauh di luar negri lah, bahas aja dulu di negri kita sendiri. Banyak kok kasus begini di ibukota ato lain daerah. Nikah tu bukan gimana kita malem mingguan kemana, ntar mau makan apa, besok mau nonton apa, lusa mau jalan kemana. Nikah tuh, ikatan suci antara pria dan wanita beserta keluarga besar serta masa depannya.


Pada dasarnya, nikah itu butuh cinta nggak sih? Butuh. Butuh agama? Iye. Butuh materi? Butuh juga pastinya. Butuh chemistry? Yoi. Nah, kalo udah dapet keempatnya baru tuh ntar yang lain-lain ngekor di belakang. Contoh; pengertian, respect, setia, rejeki, blablabla. Logic aja sih ya, tama-tama, kalian pada emangnya mau kawin sama orang yang kalian nggak cintai ato mungkin nggak kalian kenal? Enggak lah, you never get high on bed when you having hot love with stranger, kecuali kalian pekerja seks ya or maybe you are a hyper who need sex all the time you want! Sorry sih sebelumnya, tapi di sini kita mikir logic tentang pernikahan, bukan embel-embelnya. Kalo udah saling cinta, ntar ngekor deh kepercayaan, saling menghargai, saling memiliki, saling melengkapi, sampai saling menye-menyean beduaan. Kedua, agama? Tanpa agama, si suami mau ngajarin apa ke anak istrinya, mau mimpin keluarganya kyk penjajah masa? Si istri mau jadi pendamping yang gimana kalo kaga ada pedoman? Si anak bakalan idup berandalan nggak teratur, suka-suka foya-foya nggak punya tata krama gara-gara bapak ibunya nggak beragama? Amit-amit deh. Saya Muslim, saya berhijab dan saya menghargai agama dan kepercayaan lain. Pastilah semua umat beragama dan kepercayaan apapun bakal setuju sama hal itu. Ketiga, abad gini enggak mikir materi? Mati kelaparanlah! Ada ya jaman sekarang makan gratis? Dari dulu sih kalo mau makan ya beli, beli jadi ato beli dari bahan-bahannya kemudian dimasak. Intinya beli, yang namanya beli itu pake uang. Kalo tukeran namanya barter, hidup jaman Flintstone emang? Kalo nggak punya malu ya sono minta-minta, tp mintanya tetep duit kan? Saya sih ambil contoh kecil 'makan' dan ngehubungin sama duit karna makan tu basic dari hidup, nggak makan stamina anjlok. Orang diet juga makan, apalagi yang enggak. Nah, apalagi buat kebutuhan lainnya, seperti baju, rumah, transport, belum ntar sekolahin anak, biaya hidup anak pula. Wuih melebarlah pokonya. Gimana dapetin duit? Kerja halal. Apa aja penting halal. Mampunya nguli yaudah nguli daripada jual diri. Ya kan? Trakhir nih, chemistry. Nah, kenapa chemistry? Hmmmm, pada pernah nggak sih, ngrasain sayang ato cinta tapi ngga dapet chemistry nya? Cinta-cintaan kali ya jadinya. Nggak ada chemistry ya nggak ada hati dan pikiran yang berkaitan, saling menerima dan melengkapi. Adanya cuma cinta, cinta, cinta dan cinta. Bosenin.


Di umur muda dan berkomitmen buat nikah, adalah langkah besar yg cukup berani, dewasa dan menantang. Nikah muda, brarti waktu untuk hidup sama pasangan lebih lama dibanding orang-orang lain. Dimana pasti kedewasaan masing-masing dipertaruhkan lebih awal. Umur boleh muda, tapi mikirnya udah bisa diandelin ya siapa takut. Orang yang masih muda cenderung punya obsesi yang besar, obsesi untuk sukses, obsesi untuk bahagia, obsesi untuk segala macam. Buat nyatuin obsesi antara dua anak manusia ini kadang nggak bisa sejalan. Sebisa mungkin sih, menekan ego dan mengesampingkan amarah aja, itu kuncinya. Harusnya saya nggak ngomong begini, karna saya aja belum nikah meski saya selalu senang dengan kabar nikah mudanya temen sebaya. Meski sedikit ngiri juga tapi apa daya jodoh belum nemuin saya, yaudah sih nunggu aja sambil perbaik diri :D


Jadi, kapan kalian cukup tangguh untuk memulai babak baru? :)

Good night, Gold ❤


Friday, October 05, 2012

INTODUCE (again!)

Salam,
Goedemiddag iedereen!

This is my second blog. Why do I make blog again? Because all the images on my first blog were corrupt. And I was too lazy to fix them. :D

Anyway, I think I'll also use Bahasa here. So my friends who can't understand bout my next posts, I really sorry. But don't worry dear :D I'll often post much images.

Oh, I have to go. I have a date this afternoon. 






see you, loves!