HAPPY DEATH DAY
★★☆☆☆
Bulan Oktober memang lekat dengan perayaan Halloween. Kebetulan sekali, Oktober tahun ini juga ada 13th Friday. Dimana, fans horror biasanya akan maraton nonton Halloween bersama komunitasnya. 13th Friday sering dianggap tanggal sakral bagi beberapa orang. Sebagian orang mempercayai bahwa di tanggal tersebut banyak arwah bergentayangan, mayat bangkit kembali, dan lain sebagainya.
Produksi Film pun biasanya juga akan meluncurkan film bergenre horror di Bulan Oktober untuk ikut meramaikan Halloween. Dan tahun ini, ada Happy Death Day yang menyambangi bioskop di Indonesia. Tentu saya langsung mencari jadwal setelah tau film tersebut sudah diputar di bioskop.
Jauh sebelumnya, saya sempat menonton trailernya yang memang dikemas sedemikian rupa untuk membuat penonton menunggu-nunggu film ini. Tapi sayang, meskipun menarik, dari trailernya saja hampir sebagian besar jalan cerita dari film Happy Death Day sudah terbongkar.
Yah, intinya tentang seorang remaja Amerika masa kini bernama Tree yang ulang tahun, namun di hari ulang tahunnya itu malah mengalami time loop. Dimana Tree mengulang hari ulang tahunnya tersebut hingga berkali-kali. Bangun dari asrama cowo-jalan balik ke asrama dia sendiri-malam pergi pesta-kemudian mati terbunuh. Begitu berulang kali. Bahkan di trailernya saja sudah diberi kisi-kisi ada manusia bertopeng yang dicurigai sebagai pelakunya. Dan benar saja ya, di filmnya memang kemudian diceritakan bahwa si manusia bertopeng ini memang pelakunya. Namun, kemudian diperjelas si pelakunya siapa dan alasannya apa.
Jadi, intinya ini film sama sekali tidak istimewa. Jauh dari ekspektasi. Mudah ditebak, dan sama sekali bukan typical horror yang digemari fanatik film horror. Jujur sih, kecewa, yaaaaaa. Bahkan dibanding film domestik kebanggaan kita yang kemaren sempet heboh 'Pengabdi Setan' saja, menurut saya lebih bagus Pengabdi Setan.
Friday, November 17, 2017
Thursday, October 12, 2017
Remake Pengabdi Setan
PENGABDI SETAN (2017)
[★★★★☆]
HEEEEHHH! BUKAN ITU POSTERNYAAAA!
SALAAAAHHHHH!
Baru-baru ini, Indonesia sedang diguncang dengan kehebohan Remake Pengabdi Setan, karya Joko Anwar. Saya termasuk yang ikutan heboh dan nggak sabar untuk segera ngacir ke bioskop untuk menikmati alur film horror ini.
Dengan latar belakang cerita 1980an, Joko Anwar mengantarkan film ini lebih fokus kepada Ibu sebagai momok yang ditakuti. Hingga dimana-mana ada aja plesetan tentang si Ibu ini. Dengan beberapa karakter yang namanya sedikit digubah, Joko Anwar tetap bermaksud mengangkat remake beberapa karakter untuk muncul kembali di film Pengabdi Setan ini. Namun bagi penonton yang sudah pernah menonton yang versi lawas, pasti tau perbandingannya.
Seperti contoh, di film yang lawas, karakter putri pertama si Bapak adalah Rita. Sedangkan di film yang baru adalah Rini. Di film lawas, adek Rita adalah Tomi, sedangkan di film yang baru, Rini punya 3 adek sekaligus, yaitu Toni, Bondi, dan Ian. Ada juga perbedaan latar belakang keluarga di kedua film ini yaitu, di film yang lawas keluarga yang diceritakan adalah keluarga sukses dan kaya. Sedangkan di film yang baru ini, keluarga yang diceritakan terlilit hutang untuk bertahan hidup, terlebih sejak si Ibu ini mengidap penyakit keras.
***
Ibu sudah mengidap penyakit keras beberapa tahun ini, hingga sulit untuk bisa bangun dari tempat tidurnya. Dulu, beliau adalah penyanyi yang terkenal. Tidak jarang, karyanya sering diputar di radio, juga kepingan vinyl yang laku keras kala jayanya. Namun, sejak beliau sakit, Bapak harus membiayai pengobatan untuk Ibu, dan hal tersebut menyebabkan perekonomian keluarga ini morat-marit. Sampai-sampai, Rini anak pertamanya harus berhenti kuliah.
Sejak berhenti kuliah, Rini hanya tinggal di rumah untuk mengurus semua kebutuhan domestik rumah tangga. Termasuk mengurus ketiga adeknya; Toni yang sudah SMA, Bondi yang masih SD, dan Ian (tunawicara) yang belum sekolah. Selain itu, Neneknya yang juga tinggal bersama mereka, menjadi tanggung jawab Rini di rumah.
Setelah 4 tahun lamanya Ibu menanggung penyakitnya, ajal Ibu datang. Penyakit keras yang dideritanya sudah tidak mampu ditahan. Dan kejanggalan-kejanggalan mulai muncul setelah sang Ibu meninggal dunia. Ditambah keluarga ini memang tidak pernah melaksanakan ibadah sholat. Sampai-sampai saat pengajian untuk almarhumah sang Ibu, keluarga ini hanya diam saja dan tidak ikut mengaji.
Tidak lama setelah meninggalnya sang Ibu, nenek tiba-tiba meninggal karna jatuh ke sumur. Setelah kejadian itu, makin banyak sekali kejadian-kejadian yang janggal di rumah mereka. Bondi juga sempat terlihat seperti kerasukan dan ingin membunuh adeknya sendiri, Ian. Sedangkan Ian yang tunawicara kerap kali kesusahan untuk menyampaikan hal-hal janggal tersebut kepada Rini juga sang Bapak.
Tidak berhenti di situ. Putra dari seorang ustadz di daerah rumah mereka, Hendra, juga tiba-tiba meninggal dalam perjalanan pulang dari kota. Padahal keperluan dia ke kota juga untuk menolong Rini. Sayang seribu sayang, Hendra meninggal dengan tragis dalam perjalanannya.
Banyak plot-plot cerita yang cukup mengejutkan dan tidak sesuai dengan tebakan penonton. Menurut saya, Joko Anwar cukup berhasil membawa aroma horror Indonesia kembali bangun dari tidurnya. Mengingat beberapa tahun terakhir ini, Indonesia lebih banyak dihantui oleh film-film horror abal-abal yang malah membuat kita semua muak dengan tontonan seronoknya.
Dan, IMHO, film ini patut mendapatkan pujian dan cetak rekor jumlah penontonnya. Bagi kalian, yang belum menonton, boleh coba cek jadwal film di bioskop terdekat yah :) Selama film berbobot dan layak dibanggakan, tidak ada salahnya bukan kita ikut mendukungnya?
Dan, IMHO, film ini patut mendapatkan pujian dan cetak rekor jumlah penontonnya. Bagi kalian, yang belum menonton, boleh coba cek jadwal film di bioskop terdekat yah :) Selama film berbobot dan layak dibanggakan, tidak ada salahnya bukan kita ikut mendukungnya?
Monday, September 11, 2017
RINDU
Ketahuilah,
Rindu adalah waktu
Saat rasa itu pudar, waktulah yang berperan.
Hingga, kemudian rindu datang kembali
Sebagai tanda, bahwa waktu juga yang tak mampu menahan.
Sunday, August 27, 2017
Kisah Abu
Pernah denger tentang kisah tragis belum? Sering ya? Kisah
tragis tentang percintaan? Banyak juga kan, dan yang paling terkenal ada kisah
Romeo and Juliet. Tapi, bukan kok, ini bukan kisah tragis yang ujungnya
kematian. Justru pemain utamanya masih hidup,namun dengan memeluk penyesalan
sampai kelak.
Tidak bisa dilarang untuk menyesali hal yang tidak kita
pilih dalam hidup, terutama untuk hal-hal yang dampaknya besar. Kenapa? Karena,
kita tidak akan pernah tau selama tidak mencoba, dan kita belum tentu mendapatkan
kesempatan untuk mencoba di kemudian hari. Kemudian, ketika di ujung titik
sudah tidak ada waktu, hal apa lagi yang bisa diungkapkan selain penyesalan?
Masih ingat kisah DWP 2015 yang pernah saya tulis? Post ini
kelanjutan dari kisah malam itu. Hasil dari segala pertanyaan, kepasrahan,
hingga pinta dan doa yang pernah terucap dalam batin selama ini. Masih dengan
nama yang sama, Riva.
Dengan latar belakang cerita yang pernah saya tulis saat
itu, hasil akhirnya yaitu saya hanya mendapatkan sebuah undangan pernikahan
dengan kekasihnya. Kalah? Saya bukan kalah, karena sebulan sebelumnya saya
lebih dulu mengadakan akad nikah. Tapi saya merasa kalah, dengan tangan kosong
tanpa perjuangan apa-apa selama ini dan hanya bisa menerima yang terjadi,
terjadilah.
Riva. Yang jelas tidak bisa dipanggil mantan, apalagi
sekedar teman. Layak mendapatkan sepetak area di hati. Dengan segala lika-liku
saya sendiri yang mengidap penyakit gengsi, ketidakberanian seorang Aries untuk
membuka jalan baru, dan semua air mata yang sempat diadu dalam rasa sesal yang
paling menyesakkan di kurang lebih 30 menit percakapan via telfon. Gengsi yang
justru menenggelamkan saya dalam ikatan pikiran yang pekat tanpa berani
mengungkapkan. Seorang Aries yang seperti kebanyakan tidak mau repot dan melulu
di zona nyaman. Air mata yang entah mengalir dari mana asalnya. Ada satu malam,
yang rasanya tidak ingin saya biarkan pergi, dengan rasa sedih, penyesalan, dan
rindu yang menyatu dengan terbukanya sebuah fakta kala itu.
Meski, saya tidak menjamin, 10 tahun dari sekarang, apakah
saya masih merasakan kesedihan yang sama kentalnya seperti saat ini atau tidak.
Namun, bab ini butuh spidol warna abu yang khas dengan sedikit gliter yang
menandai bahwa kisah abu ini lebih terang dibanding warna pelangi. Hingga,
suatu hari ketika saya mulai lupa, dan ingin bernostalgia, saya dapat membuka
bab ini dengan menghirup aroma kenangan yang kental.
Di acara pernikahannya, saya datang dengan orang tua. Dengan
kebaya organza warna abu dan batik juga selendang sutra warna biru. Sengaja,
tiba-tiba sangat berfilsafat untuk acara tersebut. Warna abu untuk Kisah Abu
ini, biru untuk ungkapan perasaan. People
always saying “I’m feeling so blue” when they are sad. Tidak lama berada di
sana, karena satupun saya tidak kenal tamu undangannya. Saya juga tidak kenal
teman-teman Riva yang datang. Bahkan tau pun tidak. Ternyata benar ya, hati
memilih kisah tanpa kita tidak pernah tau kapan, dimana dan dengan siapanya.
Siapa yang menyangka jika hati ini menyisakan sepetak kisah istimewa yang tidak
memiliki mutual friend sama sekali.
Tidak ada kalimat ucapan, juga doa-doa yang saya jabarkan
secara tertulis di pesan singkat atau telfon atau bahkan di pelaminan. Karena
saya tidak setangguh itu menyampaikan langsung hal yang justru bertolak
belakang dengan suasana hati.
Namun, terima kasih
atas mata yang berbicara semalam, pelukan yang tersirat banyak makna, degup
jantung yang tak beraturan, tangan dingin yang tiba-tiba, senyum tertahan
menahan rasa perasaan. Terima kasih sudah berbagi kebahagiaan. Aku turut
berbahagia. Doa terbaik di dalam hati, untukmu aku sematkan untuk keluarga
kecil yang kau bangun mulai kini.
Rasanya seperti takdir memainkan nasib seseorang. Seperti
halnya yang dikeluhkan kebanyakan orang. Saya pun begitu. Teori-teori yang
sekedar menenangkan, sesungguhnya hanya teori belaka. Tetap hati tidak bisa
ditipu dengan kalimat berlogika. Bagi orang lain, mungkin ini hanya menjadi
cerita sampah, recehan yang tidak perlu dielu-elukan. Namun bagi saya, dari
Kisah Abu, saya belajar banyak hal dari seseorang yang tidak pernah saya
miliki.
Sesal memang tidak berguna, tapi juga tidak bisa dilarang.
Dari semua ini saya tau, bahwa gengsi tidak bisa dibawa untuk perkara hati dan
nyali bisa kalah dengan hati. Gengsi saya terlalu besar, meski tidak sebesar
nyali saya, namun keduanya dikalahkan oleh hati yang lebih besar lagi ukurannya.
***
Kisah Abu, mendorong saya menjadi orang paling sabar
memendam perasaan. Mengajarkan saya untuk berbesar hati, memeluk wanita lain
dengan rasa sayang dan kemudian menitipkan perasaan dalam diam. Menghajar saya
sampai babak belur bahwa ilmu ikhlas dibuktikan bukan dengan sekedar ucapan,
tapi kenyataan perbuatan. Menghantam saya untuk tetap menjalani fakta dengan
menggengam bab yang unik ini. Mengejar saya untuk tetap tangguh berlari bukan
untuk menghindari tapi berani menghadapi.
Kisah Abu, bukan sekedar kisah percintaan remaja yang
dipersulit dengan hal posesif, mama papa suka atau tidak, bingung makan dimana,
kencan pakai baju apa, mau ngepost foto yang mana, marathon film di bioskop, bercumbu di sofa rumah,
bermesraan sepanjang kemacetan, surprise perayaan anniversary, tiup lilin ulang
tahun, kecemburuan dengan hobi, bergandengan tangan hingga berkeringat, datang
berdampingan ke sebuah kawinan, dan masih banyak lagi. Bukan, bukan satu pun
itu. Kisah Abu, adalah kisah pelik yang dimiliki dan dipeluk erat kenangannya,
meski sedikit tapi rumit. Dalam tapi tidak mencekam.
Kisah Abu, terima kasih saja tidak akan cukup. Namun yang
saya miliki sekarang hanyalah itu. Hakku untuk mengungkapkan dengan lantang
sudah dikoyak oleh kenyataan. Tapi, ada janji yang pasti saya tepati. Supaya
Riva tau, janji bukan sekedar hutang, namun pembuktian harga diri. Harga diri
yang dibangun dari hati.
Kisah Abu, kuucapkan terima kasih dengan pelukan tanpa
dimensi. Kau tak hanya mengajarkan aku sebuah makna, namun sebuah kisah
kenangan yang bermakna. Terima kasih, untuk hatimu yang terbuka meski sedikit,
sempit dan terlambat. Rasa sayang ini
terbungkus rindu yang aman dari arus. Rasa sayang ini memeluk erat petaknya di
hati, dengan takhta yang berbeda. Rasa sayang ini ada dan nyata. Rasa sayang
ini, untuk kisah terfavorit hadiah dari Tuhan. Rasa sayang ini adalah Kisah
Abu.
Kisah Abu, terima kasih.
Thursday, August 03, 2017
AGUSTUS
Apa yang pertama kali kita salahkan ketika jalan yang kita hadapi tidak sejalan dengan hati kita?
Siapa yang pertama kali kita tuduh menjadi biang perusak logika dari segalanya?
Mungkin, terasa tidak menyenangkan, terasa menyesakkan.
Bukan, bukan 'mungkin' tapi benar begitu adanya.
Ya, tidak menyenangkan, terasa menyesakkan.
Terkadang, kita kehilangan seseorang yang lebih berharga dari siapapun, dan harus benar-benar melepaskan.
Terkadang, kita harus kehilangan sekaligus melepaskan orang yang sekalipun tidak pernah kita miliki.
Terkadang, kita justru memiliki seseorang yang asing dengan perasaan kita sendiri.
Terkadang, kita justru melepaskan orang yang sesungguhnya baik untuk kita.
Terkadang, kita memutuskan dan memilih hal yang salah dan penyesalan muncul di kemudian hari.
Terkadang, kita seberuntung itu mendapatkan apa saja yang kita mau.
Selamat datang bulan lahir.
Bulan tersayang yang kini mulai kubenci.
Dimana kehilangan lebih terasa perih.
Kehilangan seorang dokter terbaikku yang kemudian tanpa jejak dia pergi.
Kehilangan seseorang yang bahkan tidak pernah aku miliki.
Kehilangan waktu usiaku untuk berpijak di bumi.
Monday, June 26, 2017
Selamat Lebaran (?)
Bagi beberapa orang yang
beruntung akan memamerkan betapa kompaknya mereka dengan menyombongkan TRAH
mereka ke public lewat social media. Namun, tidak luput pula ada yang hanya
sekedar being a fake person in the middle of their own family.
Ada pula yang reuni, atau
ketemu temen lama,hahahihi cerita sana sini, tapi di belakang bisa bilang ‘I
hate that bitch!’ Why should be that rude
to be a human?
Well, bukan dunia yang
sesungguhnya kejam. Tapi manusianya, yang kadang suka kurang toleransi pake
hati, tapi pake tungkak! Sorry to say, but it happened to us. Admit it.
Tidak peduli siapapun
kalian, pasti merasa there’s somebody rude to you.
Kadang, kita terlalu
focus dengan template kalimat ‘mohon maaf lahir batin, kita kembali ke fitri di
hari kemenangan ini.’ Tanpa mengindahkan maksud kalimat tersebut. Setelah
harinya lewat, ya sakit hati merebak lagi. Begitu seterusnya sampai ketemu hari
Idul Fitri lagi. Malah kadang di hari yang dianggap hari suci tersebut, tetap
saja akan ada yang bersikap kejam. (anyone
with me?)
Bukannya menjadi
pendengar yang baik atau pemberi nasihat yang tepat, kadang mereka hanya
sekedar kepo, sejauh mana masalah yang kita hadapi. Kemudian di moment yang
lebih kurang tepat, malah makin menjadi-jadi menyakiti perasaan dengan
menanyakan dengan pertanyaan sarkas.
Setiap orang memang punya
cara masing-masing untuk menyelesaikan permasalahan. Namun orang lain, well
sebut saja penonton huru hara yang suka kepo tadi, hanya bisa mencaci ketika
hidup kita berantakan, dan pura-pura bahagia ketika hidup kita mulai baik.
Pantaskah kita mempertimbangkan makian untuk menghadapi apapun yang baik untuk
kehidupan kita sendiri? Depends. But, it’s all about my opinion. Mungkin ada yang
malu kalo hidupnya tidak sesuai puja-puji orang lain. Padahal, orang lain kasih
apa ke kita? Nothing. Ada pula yang bisa saja cuek apapun omongan orang lain.
Jika memang ada
orang-orang yang ada untuk kita dalam kondisi baik-buruk-naik-turun, bisa dari
pihak kawan bahkan lawan ataupun pihak saudara sendiri, biasanya support yang diberikan
ketika kita menghadapi masalah, tidak akan judgemental seperti orang lain
kebanyakan. But, jangan salah, jangan berharap banyak, ada pula yang hanya bisa
menghela nafas dan diam saja tapi seakan-akan mereka ikut mikir, ketika kita
datang ke mereka, they’re just silent like shit.
FYI,
silence is not a gold when someone needs you, but you help nothing.
Masih harus mudah percaya
dengan orang lain? Rasanya pertanyaan tersebut menjadi PR kita masing-masing
setelah membaca postingan ini. Apakah si A dapat dipercaya, apakah si B bisa
dipegang omongannya, apakah si C mampu menjadi pendengar setia kita, dan
seterusnya.
Hati-hati, orang terdekat
belum tentu baik. Orang baik belum tentu dekat. Orang halus belum tentu baik.
Orang pendiam bukan berarti emas. Orang keras bukan berarti tidak waras. Orang
cuek bukan berarti tidak peduli. Agak sedikit egois, tapi kepada siapa lagi
kita bisa percaya kecuali kepada diri sendiri untuk menghadapi dunia?
Please please please,
people stop being rude. Somehow, the more I learn about people, the more I love
animals. Jangan suka kejam ah. Life is riding a bicycle, kadang di
atas kadang di bawah, kadang pula ‘njungkel’. Hehehehe
Selamat Idul Fitri.
Semoga bertemu lagi dengan Bulan Ramadhan lagi, lagi dan lagi. Aamiin
Wednesday, March 01, 2017
PENGULANGAN
Siapa sangka, tahun 2017 sudah masuk bulan ke 3. Cepat sekali ya? Saya masih nggak rela hari ini sudah bulan Maret. Kalo kata orang-orang, rasanya ingin memutar waktu ke masa lalu. Tapi, nampaknya tidak semua masa lalu harus kita ulang ya! Tidak semuanya indah dan menarik bukan?
Salah satu yang ingin sekali saya ulang, adalah memilih perguruan tinggi dan jurusan yang benar-benar saya mau. Hari ini, banyak saya temui orang-orang yang orientasinya sempit hanya uang saja. Sekolah yang nantinya bisa menghasilkan uang.
Tidak dipungkiri, sekolah setinggi-tingginya bertujuan untuk lapangan kerja yang baik. Tapi, kadang orang lalai akan potensi masing-masing. Contohnya saya sendiri. Dulu, cita-cita saya banyak (mungkin bisa dibilang sampai sekarang). Psikolog, Fashion Designer, Photographer, bahkan Detektif. Tapi, tidak satupun yang orang tua saya setuju. Maklum, orang tua lebih kolot orientasinya tentang masa depan.
Yang lucu, generasi milenial justru masih ada yang sempit dalam berpikiran mengenai potensi diri. Saya pernah dengar ada orang yang bilang kepada saya "Ngapain repot-repot belajar biola lagi? Belajar yang menghasilkan uang aja.", ketika saya nyeletuk "Kangen ih belajar biola lagi. Pengen ah belajar lagi".
Tidak ada yang salah kok, ketika kita mikir gimana dapatin uang. Apalagi, hari gini? Dimana-mana ujung-ujungnya uang. Tapi, mengabaikan potensi diri, rasanya seperti 'yang penting makan, tidak peduli makanan itu basi atau masih layak makan'. Kepikiran nggak, dari mengembangkan potensi itu bisa menghasilkan uang? Dari hobi bisa menghasilkan uang? Enggak? Karena yang bilang enggak, pasti memiliki pikiran bahwa bekerja itu formal, di kantor, Full day Senin - Jumat.
Maaf, saya bukan aliran kerja harus di kantor dari hari Senin-Jumat. Jadi, saya kurang setuju. Apalagi masa kini, yang perkembangannya pesat. Media apapun sudah mudah dijangkau. Dimanapun kita bisa bekerja. Kapanpun kita bisa bekerja. Selama itu positif dan baik, kenapa tidak? Bahkan wirausaha pun sekarang bisa kita lakukan sambil beraktifitas lainnya. Tidak harus di toko seharian.
Coba, yang ngerasa mikirnya sempit, coba dibuka sedikit jendela dunianya :)
Subscribe to:
Posts (Atom)









