Thursday, August 03, 2017

AGUSTUS

Apa yang pertama kali kita salahkan ketika jalan yang kita hadapi tidak sejalan dengan hati kita?
Siapa yang pertama kali kita tuduh menjadi biang perusak logika dari segalanya?
Mungkin, terasa tidak menyenangkan, terasa menyesakkan.
Bukan, bukan 'mungkin' tapi benar begitu adanya.
Ya, tidak menyenangkan, terasa menyesakkan.


Terkadang, kita kehilangan seseorang yang lebih berharga dari siapapun, dan harus benar-benar melepaskan.
Terkadang, kita harus kehilangan sekaligus melepaskan orang yang sekalipun tidak pernah kita miliki.
Terkadang, kita justru memiliki seseorang yang asing dengan perasaan kita sendiri.
Terkadang, kita justru melepaskan orang yang sesungguhnya baik untuk kita.
Terkadang, kita memutuskan dan memilih hal yang salah dan penyesalan muncul di kemudian hari.
Terkadang, kita seberuntung itu mendapatkan apa saja yang kita mau.


Selamat datang bulan lahir.
Bulan tersayang yang kini mulai kubenci.
Dimana kehilangan lebih terasa perih.
Kehilangan seorang dokter terbaikku yang kemudian tanpa jejak dia pergi.
Kehilangan seseorang yang bahkan tidak pernah aku miliki.
Kehilangan waktu usiaku untuk berpijak di bumi.

Monday, June 26, 2017

Selamat Lebaran (?)

Idul Fitri yang mestinya menjadi moment kembali ke fitri, untuk saling melebur benci menjadi maaf yang haru, terkadang dirusak oleh pertanyaan-pertanyaan atau sekedar celetukan yang malah menyakiti perasaan. Sedihnya, hal tersebut lebih sering datang dari lingkungan terdekat sendiri. Miris.

Bagi beberapa orang yang beruntung akan memamerkan betapa kompaknya mereka dengan menyombongkan TRAH mereka ke public lewat social media. Namun, tidak luput pula ada yang hanya sekedar being a fake person in the middle of their own family. 

Ada pula yang reuni, atau ketemu temen lama,hahahihi cerita sana sini, tapi di belakang bisa bilang ‘I hate that bitch!’ Why should be that rude to be a human?

Well, bukan dunia yang sesungguhnya kejam. Tapi manusianya, yang kadang suka kurang toleransi pake hati, tapi pake tungkak! Sorry to say, but it happened to us. Admit it.

Tidak peduli siapapun kalian, pasti merasa there’s somebody rude to you.

Kadang, kita terlalu focus dengan template kalimat ‘mohon maaf lahir batin, kita kembali ke fitri di hari kemenangan ini.’ Tanpa mengindahkan maksud kalimat tersebut. Setelah harinya lewat, ya sakit hati merebak lagi. Begitu seterusnya sampai ketemu hari Idul Fitri lagi. Malah kadang di hari yang dianggap hari suci tersebut, tetap saja akan ada yang bersikap kejam. (anyone with me?)

Bukannya menjadi pendengar yang baik atau pemberi nasihat yang tepat, kadang mereka hanya sekedar kepo, sejauh mana masalah yang kita hadapi. Kemudian di moment yang lebih kurang tepat, malah makin menjadi-jadi menyakiti perasaan dengan menanyakan dengan pertanyaan sarkas.

Setiap orang memang punya cara masing-masing untuk menyelesaikan permasalahan. Namun orang lain, well sebut saja penonton huru hara yang suka kepo tadi, hanya bisa mencaci ketika hidup kita berantakan, dan pura-pura bahagia ketika hidup kita mulai baik. Pantaskah kita mempertimbangkan makian untuk menghadapi apapun yang baik untuk kehidupan kita sendiri? Depends. But, it’s all about my opinion. Mungkin ada yang malu kalo hidupnya tidak sesuai puja-puji orang lain. Padahal, orang lain kasih apa ke kita? Nothing. Ada pula yang bisa saja cuek apapun omongan orang lain.

Jika memang ada orang-orang yang ada untuk kita dalam kondisi baik-buruk-naik-turun, bisa dari pihak kawan bahkan lawan ataupun pihak saudara sendiri, biasanya support yang diberikan ketika kita menghadapi masalah, tidak akan judgemental seperti orang lain kebanyakan. But, jangan salah, jangan berharap banyak, ada pula yang hanya bisa menghela nafas dan diam saja tapi seakan-akan mereka ikut mikir, ketika kita datang ke mereka, they’re just silent like shit.

FYI, silence is not a gold when someone needs you, but you help nothing.

Masih harus mudah percaya dengan orang lain? Rasanya pertanyaan tersebut menjadi PR kita masing-masing setelah membaca postingan ini. Apakah si A dapat dipercaya, apakah si B bisa dipegang omongannya, apakah si C mampu menjadi pendengar setia kita, dan seterusnya.

Hati-hati, orang terdekat belum tentu baik. Orang baik belum tentu dekat. Orang halus belum tentu baik. Orang pendiam bukan berarti emas. Orang keras bukan berarti tidak waras. Orang cuek bukan berarti tidak peduli. Agak sedikit egois, tapi kepada siapa lagi kita bisa percaya kecuali kepada diri sendiri untuk menghadapi dunia?



Please please please, people stop being rude. Somehow, the more I learn about people, the more I love animals. Jangan suka kejam ah. Life is riding a bicycle, kadang di atas kadang di bawah, kadang pula ‘njungkel’. Hehehehe

Selamat Idul Fitri. Semoga bertemu lagi dengan Bulan Ramadhan lagi, lagi dan lagi. Aamiin

Wednesday, March 01, 2017

PENGULANGAN



Siapa sangka, tahun 2017 sudah masuk bulan ke 3. Cepat sekali ya? Saya masih nggak rela hari ini sudah bulan Maret. Kalo kata orang-orang, rasanya ingin memutar waktu ke masa lalu. Tapi, nampaknya tidak semua masa lalu harus kita ulang ya! Tidak semuanya indah dan menarik bukan?


Salah satu yang ingin sekali saya ulang, adalah memilih perguruan tinggi dan jurusan yang benar-benar saya mau. Hari ini, banyak saya temui orang-orang yang orientasinya sempit hanya uang saja. Sekolah yang nantinya bisa menghasilkan uang.


Tidak dipungkiri, sekolah setinggi-tingginya bertujuan untuk lapangan kerja yang baik. Tapi, kadang orang lalai akan potensi masing-masing. Contohnya saya sendiri. Dulu, cita-cita saya banyak (mungkin bisa dibilang sampai sekarang). Psikolog, Fashion Designer, Photographer, bahkan Detektif. Tapi, tidak satupun yang orang tua saya setuju. Maklum, orang tua lebih kolot orientasinya tentang masa depan.


Yang lucu, generasi milenial justru masih ada yang sempit dalam berpikiran mengenai potensi diri. Saya pernah dengar ada orang yang bilang kepada saya "Ngapain repot-repot belajar biola lagi? Belajar yang menghasilkan uang aja.", ketika saya nyeletuk "Kangen ih belajar biola lagi. Pengen ah belajar lagi".


Tidak ada yang salah kok, ketika kita mikir gimana dapatin uang. Apalagi, hari gini? Dimana-mana ujung-ujungnya uang. Tapi, mengabaikan potensi diri, rasanya seperti 'yang penting makan, tidak peduli makanan itu basi atau masih layak makan'. Kepikiran nggak, dari mengembangkan potensi itu bisa menghasilkan uang? Dari hobi bisa menghasilkan uang? Enggak? Karena yang bilang enggak, pasti memiliki pikiran bahwa bekerja itu formal, di kantor, Full day Senin - Jumat.


Maaf, saya bukan aliran kerja harus di kantor dari hari Senin-Jumat. Jadi, saya kurang setuju. Apalagi masa kini, yang perkembangannya pesat. Media apapun sudah mudah dijangkau. Dimanapun kita bisa bekerja. Kapanpun kita bisa bekerja. Selama itu positif dan baik, kenapa tidak? Bahkan wirausaha pun sekarang bisa kita lakukan sambil beraktifitas lainnya. Tidak harus di toko seharian.


Coba, yang ngerasa mikirnya sempit, coba dibuka sedikit jendela dunianya :)

Tuesday, February 28, 2017

NAIF

 
Agak naif ya ketika saya membicarakan hubungan jika saya sendiri saja belum mapan. Tapi, dari hubungan-hubungan yang sudah saya alami sebelumnya, sesungguhnya ada yang meninggalkan bekas terdalam. Dan dia yang hubungannya dengan saya kala itu sesungguhnya paling berhasil, dan penyebab keretakannya bukan dari kami berdua sama sekali. But everything must go on. So I moved. Tapi bukan berarti kami putus komunikasi sama sekali. Bukan berarti kami saling benci setelahnya. He's a kinda perfection figure of partner of life.


Saya mudah sekali ilang feeling dengan orang lain, apalagi jika orang lain itu pembawaannya kurang bisa beradaptasi dengan lingkungan saya. Atau ternyata luput dari yang terlihat. Atau ternyata sikap dan habitnya tidak sesuai. Atau cara berpikirnya yang terkotak. Atau apalah apalah apalah. Lebih ke pribadinya, bukan ke harta, jabatan, hobi, lagu kesukaan, dan lain-lain. Bukan. Saya tekankan lagi, tapi karna lebih ke pribadinya.


Salah satu cara menilai kepribadian seseorang dalam hubungan yang berhasil adalah dari komunikasi yang baik, in my opinion. Siapa orangnya yang tidak senang dengan hubungan yang memiliki komunikasi dua arah yang baik? Pasti tidak ada. Siapa pria yang tidak mau dihormati pasangannya? Tidak mungkin tidak ada. Siapa wanita yang tidak mau dihargai oleh pasangannya? Pasti semua mau.


Pria tidak bisa menuntut pasangannya untuk menjadi bidadari atau malaikat jika dia tidak menghargai posisi wanitanya sebagai pasangannya. Terlebih lagi, jika sudah menjadi suami istri. Dan wanita tidak bisa menuntut untuk mendapatkan apa-apa selama dia tidak menghormati pasangannya. Bukankah ini timbal balik? Karena hubungan adalah dimana saling membutuhkan satu sama lain. Bukan searah saja.


Bukan ego "aku sudah berusaha yang terbaik. kamu masih gini aja!". Saya paling benci manusia seperti ini. Usaha apa yang sudah dilakukan sampai berani jumawa bilang seperti itu? Usaha, tidak mengenal putus asa dan krisis penerimaan diri. Bukannya akan lebih baik, jika lebih berusaha lagi ketika kita salah dan orang lain dapat menilai sendiri atas usaha yang kita buat? Itu justru lebih mulia rasanya dibanding ngotot "Gw udah usaha!" :))) no offense ya bagi pembaca yang tersinggung.


Tidak ada kata terlambat untuk memperbaiki kan selama masih diberi umur panjang?

Saturday, January 28, 2017

So Long, AIA Financial

Ini adalah postingan sampai jumpa untuk teman-teman dimana saya bekerja sebelum ini. And I wrote on board, karena saya merasa fase tersedih adalah ketika saya sedang berada di penerbangan. Supaya menghayati. Hehehe

Ketika menulis ini, saya sedang perjalanan ke kota dimana akan dating ke suatu sidang penting sebelum saya benar-benar masuk ke sidang menikah. *hahaha seriusan!* Saya duduk di barisan paling belakang, kursi 46B, in the middle of old men, kiri bule America dan kanan Chinese, *Honestly, I hate sitting in between chair*.

Duduk tanpa rasa kantuk kurang lebih sejam perjalanan.

PT AIA Financial
Saya patut berbangga pernah bekerja di sebuah perusahaan besar yang namanya tidak diragukan lagi oleh dunia asuransi. Namun kebanggaan itu berkurang ketika ilmu kuliah saya tidak berguna selama saya bekerja. Di balik itu semua, ada pengalaman yang jauh lebih berharga yang tidak saya dapat ketika duduk di bangku sekolah, kursus, dan perkuliahan. Engaged with people. Dimana persaingan menjadi nomor satu dan etika kadang menjadi nomor sekian. Dimana saya harus tetap merendah meredam amarah ketika hati panas bergejolak. Dimana logika saya meronta-ronta tidak sejalan. Namun, semua harus lebur, karna saya bekerja ikut orang, didn't run my own company, didn't rule the world, didn't lead anyone. Mengesampingkan ego, namun tidak bertindak bego.

Gaji yang orang bilang tidak seberapa dibanding bisnis keluarga, yang mereka bilang aset jiwa dan raga saya, bagi saya adalah nafkah untuk pengalaman pribadi. Dengan uang gaji saya sendiri, yang menurut mereka pas-pasan, dan menurut saya hanya lewat di deposito, tp saya balik dengan melihat orang-orang yang keberuntungannya tidak sama dengan yang saya miliki, saya bisa belajar bersyukur. Uang yang tak seberapa itu bisa menjadi angin segar untuk saya menjaga sebagian kewajiban. Berbeda dengan ketika saya harus menggaji diri sendiri. Saya yang mendapatkan uangnya, dan saya harus menggaji finansial sendiri tanpa cela. Sedikit salah, membawa bubrah. Salah jika mereka bilang 'usaha aja enak kan', justru saya si pengatur yang diatur. It's more challenging than saya duduk di kursi kerja setiap 8am-5pm, kadang lembur sampai tengah malam, dengan jaminan gaji setiap bulan dan asuransi yang menjaga jika terjadi apa-apa.
KEPUTUSAN
Di antara banyaknya pertanyaan 'kamu kemana sih' setelah pengajuan pengunduran diri, terselip juga pertanyaan di dalam hati, 'nekat juga ya lo Ga?'. Tapi kalo nggak gini, saya masih saja di zona nyaman. Saya merasa seperti memiliki hubungan yang super nyaman namun tidak baik untuk dilanjutkan dan mau tidak mau saya mesti pergi, meninggalkan hubungan ini. Lucu ya? Tapi begitu kira-kira. Hmmm jangan salah sangka ya, bukan kerjaan saya tidak baik maksudnya. Tapi, pertimbangannya banyak kalo saya masih kerja, di AIA Financial.
Banyak 'Kok ya kebetulan' dan 'Ndilalah' yang mesti saya lakukan setelah saya lepas dari waktu kerja. Dan keputusan ini benar-benar butuh pikiran yang matang sekali untuk akhirnya mengajukan surat resign. Bukan nganggur. Bukan jobless. Saya punya segudang kegiatan yang mesti saya lakukan. Dan nggak harus semua orang tau. Nggak semua orang harus saya ceritakan. Dan nggak harus setiap detik saya update kegiatan saya apa. Tidak perlu kan hidup ala-ala selebgram semua dipamerin setiap detik setiap menit.
FAREWELL
After this 2 years journey, I'm at the stage that I should move to another step. To catch my brighter future in my hand. But it doesn't mean, I leave you behind with no memories. We made it, and I'll keep it for sure.

I learned a lot. And I thank for that. Especially for my teammates. In up and down, we just through phases. Thanks Bu Rainy, Mba Retno, Mas Rangga, Om Eki, Cc Helen, Mba Maya n Mas Bayu, for the experiences we shared. You guys are my second family that never be replaced. Sometimes we argued, but mostly we laughed with no hatred. I'm gonna miss you each persons.

Farewell doesn't mean goodbye as long as we still live in the same universe. I've thought this decision for many times, but this time is good enough to give a farewell hug for free and say see you, and good luck for everyone 😊

Please stay in touch in anything;
Email: helganastasia@gmail.com
Socmed: @helganastasia

Monday, January 09, 2017

2017

Masih kerasa awal tahun sekali ketika saya memulai tulisan ini. Seperti biasa, saya bukan manusia yang terobsesi untuk membuat resolusi setiap tahun barunya. Saya menjalani hidup hari ini, untuk hari esok yang jauh lebih baik. Setiap hari. Begitulah...
 
 
Idealis? Ya. Kembali saya sadari dan akui.
 
 
Siapa di antara kalian yang pernah menyangkal atau putus asa dengan janji-janji Tuhan? Saya pernah mengalaminya. Bukan menyangkal, tapi pasrah dan di titik putus asa. Dimana harapan dan asa saya hanya ada di langit-langit antariksa. Sulit untuk menggapai, namun mudah untuk dibaca. Saya merasa menjadi manusia yang tak dilihat oleh Tuhan. Saya merasa iri dengan teman-teman saya. Saya merasa kecewa dengan beribu-ribu keputusan yang pernah dibuat. Saya merasa jauh sekali dari yang seharusnya. Dan jawaban Tuhan saat itu sesungguhnya hanya satu: BERSABARLAH.
 
Karena bersabar sesungguhnya kunci dari segalanya. Itulah mengapa, sabar itu tidak mudah. Ujian terindah adalah menjaga hati dan pikiran dengan reward yang tidak terduga. Yang rewardnya jauh lebih indah dibanding permintaan kita. Tuhan tersenyum kala kita tepat waktunya mendapatkan reward tersebut. Dan saya salah satunya yang sudah mengalami Kuasa Tuhan ini tidak terbatas. Dan saya mengalaminya dengan melalui ujian rasa sabar setiap hari. Tempaan yang terus-terusan saya dapat malah membuat saya semakin dekat dengan Tuhan dan jalan baikNya. Namun apapun yang menjadi kesalahan atau kebaikan yang pernah saya alami, adalah pelajaran paling berharga di buku history saya. Tidak bisa saya sesali. Yang datang dan pergi adalah ilmu. Yang datang dan menetap, adalah hadiah di bumi. Karena saya juga mungkin menjadi ilmu dan hadiah di bumi untuk banyak orang.
 
Sekarang, Insya Allah, Tuhan mengatur dengan baik, saya hanya perlu lebih banyak berdoa, beribadah, dan berusaha. Semoga Engkau selalu menjaga niat dan tujuan baik di tahun 2017 ini. Aamiin Yaa Allah Yaa Robb.

Friday, January 06, 2017

IDEALIS (?)

Saya pernah sangat marah kepada ibu saya, karena saya merasa beliau tidak bisa menyesuaikan cara pandangnya di era modern. Namun, secara tidak sadar, justru sekarang saya yang menjadi ibu saya versi usia 26 tahun. Dengan pemikiran yang kolot, kejawen dan idealis. Yang tidak semua orang bisa menerima cara pikir seperti ini.
 
Namun, meski begitu, saya tidak menutup mata dan telinga untuk mendengar pendapat orang lain. Saya lebih beranggapan bahwa setiap manusia memiliki cara pandang dan prinsipnya masing-masing. Dan itu hak setiap manusia. Dan benar atau salah adalah bukan hal mutlak. Hanya, apakah orang lain bisa menerima cara pandang dan prinsip saya yang berbeda dengan mereka pula. Jalan tengahnya dengan mencari solusi di titik tengah. Dimana satu sama lain tidak merasa salah dan benar atau kalah dan menang atau bahkan pengendali atau yang dikendalikan.
 
Semua ini hanya mengarah ke penekanan pada ego. Karena ketika kita berusaha untuk menekan ego, brati kita masih ada upaya untuk memperbaiki komunikasi berarah. Namun apabila kita kekeuh dengan prinsip "ya gimana lagi aku bisanya begini", itu berarti ego kita terlalu besar untuk memberi sedikit kelonggaran hati menerima sedikit perbedaan.
 
Saya juga nggak sesabar itu sebenernya saat menghadapi perbedaan pendapat. Emosi jelas, apalagi saya agak sedikit gampang terpancing emosi dan jadi panas. Tapi ya bukan berarti saya nggak pakai kepala dingin untuk menghadapi masalah. Saya tetap berusaha untuk terbuka menerima pendapat selama arahnya masih tetap di tengah. Dan cara pandang saya yang kolot, kejawen dan idealis ini sering mendampingi saya dengan sedikit rasa gengsi yang mengharap sedikit dikelitik, supaya kembali waras.
 
Sesungguhnya, yang salah bukan dari masalahnya, tapi cara menghadapinya. Meskipun kolot atau malah modern, jika cara menghadapinya benar, masalah pasti terpecahkan.
 
Nah, kalo kalian gimana?
 
 
Anyway, selamat tahun baru semuanyaaaaaaaaaa!

😊